Spermatozoa memiliki kekhasan dibandingkan dengan sel-sel tubuh lain, yakni kemampuan pokok untuk :
- Bergerak (motilitas).
- Mengenal (recognisi).
- Menembus (penetrasi).
- Melebur (fusi).
Men's Health, Fertility, Sexual & Anti Aging
Leukospermia (= lekositospermia / lekospermia) bila lekosit > 1 juta /ml. Sebagian besar lekosit yang terdapat dalam semen (= ejakulat / air mani) manusia berupa netrofil.
Pemeriksaan dan perhitungan lekosit ini penting karena merupakan petanda adanya infeksi saluran reproduksi pria (MAGI = male accessories glands infection) yang memerlukan terapi.
Dalam kasus terjadinya leukospermia, dihubungkan dengan perubahan parameter semen yaitu berkurangnya volume, penurunan konsentrasi sperma, penurunan motilitas (gerak) sperma peningkatan abnormalitas morfologi (bentuk normal) sperma, sampai hilangnya fungsi sperma. Penurunan diatas disebabkan oleh ROS yang meningkat serta sekresi sitokin yang sitotoksik.
Pengaruh leukospermia dalam praktek sehari-hari adalah terjadinya infertilitas pria dan faktor penyebab pada gangguan ejakulasi yaitu terjadinya ejakulasi premature (dini).
Bila ada perkiraan reaksi antibodi antisperma (ASA). Beberapa pria (atau istri) memiliki antibodi melawan sperma yang membuat tidak bergerak atau mematikan sperma untuk bergerak ke sel telur. Uji MAR dapat dilakukan dengan cepat untuk mendeteksi antibodi antisperma dalam semen.
Antibodi anti sperma (ASA) diproduksi ketika blood barrier testis terganggu oleh obstruksi, infeksi atau trauma. Immunoglobulin IgG biasanya ada di dalam serum dan semen, dan antibodi IgG melekat pada spermatozoa. ASA dari IgA disekresikan oleh kelenjar aksesori seks pria dan ditemukan hanya dalam semen saja. ASA dari kelas IgG dapat dideteksi dalam plasma semen, namun biasanya tidak ada IgA bebas dalam plasma semen. Antibodi anti sperma Anti IgA hampir tidak pernah terjadi tanpa antibodi IgG.
Dalam kasus lebih dari 40% dari spermatozoa motil ASA terdeteksi dengan pengujian IgG, sehingga IgA dianjurkan untuk uji antibodi.
Faktor immunologis merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya infertilitas.
Hyaluronidase adalah salah satu enzim yang terdapat dalam akrosom kepala spermatozoa yang berfungsi dalam reaksi akrosom yang terjadi pada zona pellusida setelah terjadinya ikatan dengan spermatozoa. 
HBA merupakan salah satu teknik untuk mengukur keadaan akrosom spermatozoa. Hasil HBA normal > 80 % spermatozoa terikat.
Merupakan pemeriksaan untuk menilai integritas nukleus DNA spermatozoa, dan kemampuan spermatozoa untuk membuahi sel telur. Pria dengan fragmentasi DNA makin tinggi (halo kecil / tidak ada) kemungkinan terjadi infertilitas makin besar.
Pentingnya dilakukan uji fragmentasi DNA adalah bagi penderita infertilitas dengan :
- Infertilitas pria diatas 1 tahun
- Umur pria > 40 tahun
- Pria perokok
- Riwayat penggunaan narkoba
- Infeksi genitourinaria, leukospermia
- Penderita varikokel
- Terpapar zat toksik (alkohol, kimia, radioaktif, suhu tinggi)
- Sebelum menjalani reproduksi berbantu (insem/bayi tabung)
- Riwayat pasangan (isteri) mengalami keguguran sebelumnya
Halo yang terbentuk di sekitar kepala sperma akibat dekondensasi kromatin karena denaturasi oleh asam sedang pada DNA dan terjadinya lysis ikatan protamine pada sperma dengan DNA utuh, bila DNA sperma rusak / tidak utuh maka tidak terbentuk halo disekitar kepala sperma (gambar no 3, 4 dan 5). 
Pada pria perokok dapat terjadi:
- Disfungsi ereksi, yang reversibel bila berhenti merokok
- Perubahan parameter spermiogram, seperti:
gangguan motilitas spermatozoa, penurunan jumlah dan vitalitas spermatozoa, peningkatan signifikan terjadinya kelainan kromosom, terjadi peningkatan kejadian teratozoospermia terutama pada bagian kepala sperma terkait dengan perubahan dalam nukleus.
- Fragmentasi DNA sperma telah dibuktikan pada pria perokok, perubahan ini terkait dengan oksidatif stress nukleus sebagai akibat dari merokok.
Semua efek merokok tembakau telah mengakibatkan peningkatan kejadian infertilitas dalam usaha mendapatkan kehamilan.

Ada beberapa metode untuk melakukan preparasi sperma. Metode preparasi sperma yang dapat dilakukan dalam program TRB adalah :
1. Simple sperm washing
2. Swim-up
3. Density gradient
4. Side Migration
5. Preparasi sperma dengan albumin
6. Penambahan zat – zat adiktif
7. Kombinasi dari metode-metode diatas
Dokter Spesialis Andrologi akan menentukan satu atau kombinasi metode - metode yang ada berdasarkan pada karakteristik hasil pemantauan dari pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya.
Komponen medium untuk preparasi sperma biasanya terdiri dari : Air (H2O), Calcium Chloride (CaCl2.2H2O), Potassium Chloride (KCl), Glucose monohydrate, Magnesium Sulphate (MgSO4.7H2O), mono-Potassium hydrogen Phosphate (KH2PO4.2H2O), Sodium Chloride (NaCl), Sodium Bicarbonate (NaHCO3, dibutuhkan untuk kapasitasi spermatozoa), Sodium Lactate (Na-lactate), Sodium pyruvate (Na-pyruvate), HEPES (salah satu buffer yang dipergunakan dalam medium kultur agar pH 7.2 - 7.4), Human Serum Albumin (HSA, sebagai sumber protein), Phenol red (indikator pH), Silane-coated colloid silica particles (khusus pada medium density gradient dengan berbagai konsentrasi 40 % - 90 %), sering juga ditambahkan antibiotik gentamicin, penicillin atau streptomicin grade farmasi. Osmolaritas dipertahankan dikisaran 280 ± 5 % (mOsm/Kg) dan medium harus di simpan dalam lemari dengan temperatur yang stabil antara 2 sampai 8 oC agar dapat dipakai sampai berakhirnya lifetime yang berkisar antara 6 minggu sampai 12 bulan dari tanggal produksi.
Dalam menjaga kualitas hasil preparasi sperma, selain menggunakan medium preparasi sperma impor bersertifikat, preparasi sperma dilakukan dalam lemari khusus (Andrology Air) dengan filter HEPA yang memiliki efisiensi 99,993 % untuk menyaring ukuran partikel ≥ 0.3 µm, bahan plastik khusus (steril, pyrogen / endotoksin free, DNA free, RNAse-free, tanpa komponen karet agar tidak toksik bagi spermatozoa), alat - alat hanya dipakai sekali saja (disposable), penggunakan sarung tangan powder free.
![]() |
| Klinik Andrologi dr. Anton Darsono Wongso, SpAnd |
Kriteria morfologi sperma disebut normal bila
Kepala : berbentuk oval, akrosom menutupi 1/3nya, panjang 3-5 mikron, lebar ½ s/d 2/3 panjangnya.
Midpiece : langsing (< ½ lebar kepala), panjang 2x panjang kepala, dan berada dalam satu garis lengan sumbu panjang kepala.
Ekor : batas tegas, berupa garis panjang 9 x panjang kepala.
Bentuk Spermatozoa
Dilakukan pengecatan dengan membuat hapusan satu tetes semen diatas gelas objek, lalu di tunggu sampai kering. Selanjutnya dilakukan fiksasi dengan menggunakan methanol selama 5 menit. Setelah kering objek gelas dicelupkan ke dalam larutan safranin selama 5 menit. Kemudian dibilas dengan cara rendam - celup ke dalam larutan buffer fosfat dengan pH 6,8 sebanyak dua kali berturut – turut. Selanjutnya dicelupkan ke dalam larutan kristal violet selama 5 menit. Kemudian dibilas dengan air mengalir dan dikeringkan di bawah lampu yang bersuhu antara 25 – 30 °C. Setelah kering diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000x menggunakan minyak emersi. Dihitung sedikitnya sebanyak 100 spermatozoa untuk mengetahui persentase spermatozoa bentuk normal (Sono, 1997).

Bentuk – bentuk morfologi abnormal adalah kepala makro, kepala mikro, kepala taper, kepala piri, kepala double, kepala amorf, kepala round, kepala pin, midpiece abnormal, sitoplasma droplet, ekor double, ekor koil, ekor bent.
Kriteria morfologi normal bila pada pemeriksaan didapatkan bentuk spermatozoa normal ≥ 30 % (WHO,1999). WHO 1999 yang direvisi > 14 % (kriteria ketat), dan terakhir morfologi normal WHO 2010 ≥ 4 %.
Bila tidak memenuhi kriteria persentase morfologi normal spermatozoa diatas maka kategori diagnostik laboratoris adalah Teratozoospermia.
Motilitas Spermatozoa
Satu tetes semen (10 µl) ke atas gelas objek dengan ukuran 25.4 mm x 76.2 mm lalu ditutup dengan cover gelas 22 mm x 22 mm. Dilakukan pengamatan sebanyak 100 spermatozoa pada pembesaran mikroskop 400x.
Motilitas spermatozoa normal bila : motilitas a > 25 % atau a+b ≥ 50 % (WHO, 1999).
Motilitas di revisi WHO tahun 2010 hanya mengenal PR, NP, IM. Motilitas spermatozoa normal bila PR ≥ 32 % atau PR+NP ≥ 40 % (WHO, 2010)
Bila menggunakan bantuan komputer (CASA) dapat ukur secara objektif kecepatan spermatozoa, atau bila menggunakan pemeriksaan manual dengan menggunakan makler counting chamber dapat memudahkan pengkategorian motilitas spermatozoa :
Bila Tidak memenuhi kriteria motilitas normal diatas maka kategori diagnostik laboratorisnya adalah Asthenozoospermia.
Konsentrasi Spermatozoa
Dilakukan terlebih dahulu perkiraan kepadatan per lapang pandang spermatozoa dengan penggunakan lapang pandang besar (pembesaran 400 kali). Perkiraan ini digunakan untuk menentukan pengenceran yang digunakan untuk menghitung konsentrasi spermatozoa menggunakan haemocytometer.
Dengan meneteskan satu tetes (10 µl) semen pada tiap kamar hitung haemocytometer, lalu dihitung jumlah spermatozoa yang ada.
• Jika sampel kurang dari 10 spermatozoa per lpb, maka menghitung seluruh kotak besar yang berjumlah 25.
• Jika 10 - 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup menghitung 10 kotak besar.
• Jika sampel > 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup menghitung 5 kotak besar.
Selanjutnya bila telah menghitung 25, 10 atau 5 kotak besar pada haemocytometer maka dibagi dalam faktor konversi sesuai kotak besar yang telah dihitung, yang hasilnya adalah konsentrasi spermatozoa dalam juta per milliliter.
Konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 20 juta/ml (WHO,1999).
WHO edisi 2010 konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 15 juta/ml.
Hubungan Konsentrasi dengan angka kehamilan dijelaskan dengan grafik dibawah ini :
Bila konsentrasi spermatozoa < 20 Juta/ml (WHO,1999) maka kategori diagnostik laboratoris disebut Oligozoospermia.
Khusus konsentrasi spermatozoa dibawah 5 juta/ml, di center Andrologi RSU Dr. Soetomo / Univ. Airlangga memberikan istilah khusus yaitu Extreme Oligozoospermia, atau diluar Indonesia di beberapa center memberikan istilah Severe Oligozoospermia.
Parameter fisik :
- Koagulasi
- Likuifaksi
- Viskositas
- Volume
- Warna
- Bau
- pH
Pemeriksaan sediaan basah :
- Bentuk secara umum
- Aglutinasi dan sel
Parameter dasar :
- Konsentrasi
- Motilitas
- Morfologi
Tes fungsi sperma :
- Hypo osmotic swelling (HOS) test
- Reaksi akrosom
- Hiperaktivitas motilitas
Tes biokimia :
- Kapasitasi fertilisasi sperma
. Nuclear chromatin decondensasi test
. Aniline blue
. Reactive oxygen species (ROS)
- Inflamasi traktus genitalis pria
. Elastase
- Disfungsi kelenjar aksesori pria
. Fruktosa
. Glukosidase
. Acid phosphatase
. Prostatic specific antigen (PSA)
Bioassay :
- Hemizona assay
. Zona binding dan penetration defects
- Sperm penetration assay
. Reaksi akrosom, fusi dan kondensasi
Lain-lain :
- Staining supravital
- Test antisperma antibody
- Test Kremer
Sumber : Intrauterine Insemination, S G Sindhu,
th penerbitan 2008, hal 26.
Bentuk Normal Sperma
Morfologi yang terlihat pada mikroskop bukanlah morfologi dari spermatozoon hidup, tetapi citra yang kita buat. Citra ini tergantung pada beberapa faktor, seperti : spermiogenesis, transport sperma, pematangan, aging, lamanya di plasma semen, teknik pengecatan, fiksasi, pewarnaan maupun kualitas mikroskop yang dipergunakan.

Pewarnaan dan pengecatan dengan kualitas tinggi sangat penting ketika melakukan morfologi sperma. Setiap spermatozoon tanpa ”cacat” secara morfologi adalah normal, diluar itu adalah abnormal.
Evaluasi yang dilakukan meliputi : kepala, midpiece, dan ekor pada 200 spermatozoa.

Kriteria morfologi sperma disebut normal bila
Kepala : berbentuk oval, akrosom menutupi 1/3nya, panjang 3-5 mikron, lebar ½ s/d 2/3 panjangnya.
Midpiece : langsing (< ½ lebar kepala), panjang 2x panjang kepala, dan berada dalam satu garis lengan sumbu panjang kepala.
Ekor : batas tegas, berupa garis panjang 9 x panjang kepala.
Istilah-istilah yang dipakai pada bentuk yang abnormal adalah :
Makro : 25 % > kepala normal
Mikro : 25 % < kepala normal
Taper : kurus, lebar kepala ½ yng normal, tidak jelas batas akrosom, memberi gambaran cerutu
Piri : memberi gambaran ”tetesan air mata”
Amorf : Bentuk kepala yg ganjil, permukaan tidak rata, tidak jelas batas akrosom
Round : bentuk kepala seperti lingkaran, tidak menunjukkan akrosom
Piri : tidak jelas adanya kepala yg nyata, tampak midpiece dan ekor saja
Cytoplasmic droplet : menempel pada kepala atau midpiece, lebih cerah
Ekor abnormal : pendek / spiral / permukaan tidak halus / ganda
Kembali ke kasus Sdr. Anang :
Morfologi berarti merujuk pada bentuk sperma yang telah dilakukan pengecatan. Batasan normal adalah > 30 % (WHO) bila kurang dari itu disebut teratozoospermia, atau dgn ”strict criteria” > 15 % (Kruger). Selain kuantitas (% yang normal) juga perlu diperhatikan kualitas (bentuk-bentuk kelainan yang ada)
Variasi parameter dasar analisa sperma manusia dari yang paling bervariatif adalah konsentrasi, motilitas dan yang terkecil adalah morfologi.
Adapun faktor yang mempengaruhi daripada perubahan morfologi adalah :
Fungsi testis, makin banyak kepala normal berarti fungsi tesis baik.
Gangguan pada epididymis, misalnya : radang, varikokel, dll akan terlihat banyak sel-sel immature.
Abstinentia seksualisnya kurang lama atau sering ejakulasi.
Penelitian Wibisono (1997) mendapatkan korelasi antara bentuk-bentuk kepala mikro, makro, taper, kelainan bentuk akrosom dan atau gabungannya berkaitan dengan adanya varikokel (salah satu penyebab infertilitas pada pria yang terbesar dan dapat dideteksi dan yg dapat diperbaiki).
Pria dengan konsentrasi sperma > 20 juta/ml, tetapi abnormal pada motilitas dan atau morfologi disebabkan oleh penyebab yang diketahui seperti : varikokel, infeksi kelenjar aksesori atau kogenital akan mempunyai kemungkinan kehamilan alami pada pasangan 40 % lebih rendah daripada penyebab yang tidak diketahui (idiopatik asteno- dan atau teratozoospermia).
Saran :
Lakukan pemeriksaan analisa sperma ulang pada laboratorium yang memiliki standarisasi dan kontrol mutu yang baik (laboratorium Andrologi yg dikontrol atau dirujuk oleh dokter spesialis Andrologi yang berpraktek di daerah saudara).
Lakukan abstinentia (tidak mengeluarkan sperma) 2 sampai 7 hari.
Hasil sperma analisa hanya petunjuk laboratoris, bukan petunjuk ke arah diagnostik klinik. Setelah ada hasil sperma analisa perlu dilakukan pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis Andrologi untuk mengetahui penyebabnya, sehingga teratozoospermia yg saudara tanyakan dapat diperbaiki.
Referensi :
NAFA., 2002. Manual on Basic Semen Analysis. Hlm 19-20.
Schill, wolf-bernhard et al., 2006. Andrology for the Clinician. Springer. Hlm 41.
Sono, onny pieters., 1978. Diktat Kuliah Analysa Sperma. Biomedik FK Unair. Suarabaya. (unpublished). Hlm 13-14.
WHO., 1999. WHO Laboratory Manual for the Examination of Human Semen and Sperm- Cervical Mucus Interaction. Fourth Edition. Cambridge University Press. Hlm 19-22.
Wibisono, Herman., 2006. Evaluasi Infertilitas Pria Menuju Program FIV dalam Fertilisasi In Vitro dalam Praktek Klinik. Puspa Swara. Hlm 42.


Klinik Andrologi membantu anda dalam masalah: Pasangan suami - istri yang ingin punya anak, Gangguan fungsi seksual yaitu : dorongan seksual menurun, lemah / tidak bisa ereksi, ejakulasi dini, tidak bisa ejakulasi, nyeri yang berhubungan dengan seksual, Gangguan genetik / hormon reproduksi pada pria (contoh : masalah penis kecil / micropenis), Gangguan pada pria dewasa / tua karena penurunan hormon (anti aging), Pelayanan laboratorium Andrologi : analisa sperma, preparasi sperma, uji biokimia semen, uji-uji sperma lainnya (misalnya untuk test kesuburan pria, evaluasi setelah vasektomi).
Copyright © 2007 - Klinik Andrologi - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web