Ejakulasi
Ejakulasi diinduksi oleh kontraksi ritmik ischiokavernosus dan terutama otot bulbocavernosus yang mengeluarkan semen melalui lumen urethra.
Fisiologi ejakulasi dijelaskan melalui neurofisiologi dan neurofarmakologi ejakulasi.
1. Neurofisiologi ejakulasi
Sistem saraf pusat dan perifer terlibat dalam proses ejakulasi.
a.Sistem saraf pusat.
Otak, batang otak dan lumbosakral cord mengandung beberapa area yang terlibat dalam ejakulasi.
b. Sistem saraf perifer
Sistem saraf otonom, termasuk sistem saraf simpatis memediasi terjadinya ejakulasi. Mekanisme ereksi dibagi 2 fase : emisi dan ekspulsi.
1). Emisi
Emisi dikontrol oleh eferen simpatetik yang berasal dari T9-L2 .
Selama emisi, semen (sperma dan plasma seminalis) disimpan ke dalam urethra posterior melalui konstraksi vasa diferentia, vesika seminalis dan prostat. Pada saat yang bersamaan, spincter internal kandung kemih tertutup.
2). Ekspulsi (atau ejakulasi sejati)
Emisi diikuti segera oleh ekspulsi. Selama ekspulsi, semen secara dikeluarkan dengan kekuatan penuh ke dalam urethra dan keluar penis oleh kontraksi klonik otot dasar panggul.
2. Neurofarmakologi ejakulasi
Ejakulasi secara sentral dimediasi oleh serotonergik (5-hydroxytryptamine; 5-HT) dan sistem dopaminergik. Pada hewan percobaan secara jelas diterangkan bahwa aktivasi reseptor 5-HT1A menfasilitasi ejakulasi, pada penelitian lain terlibat reseptor 5-HT2C dan 5-HT1B.
Mekanisme Kontrol Ejakulasi
Diposting oleh Anton Darsono Wongso di 13.19.00 Label: Erectile Dysfunction, Premature EjaculationBentuk Spermatozoa
Dilakukan pengecatan dengan membuat hapusan satu tetes semen diatas gelas objek, lalu di tunggu sampai kering. Selanjutnya dilakukan fiksasi dengan menggunakan methanol selama 5 menit. Setelah kering objek gelas dicelupkan ke dalam larutan safranin selama 5 menit. Kemudian dibilas dengan cara rendam - celup ke dalam larutan buffer fosfat dengan pH 6,8 sebanyak dua kali berturut – turut. Selanjutnya dicelupkan ke dalam larutan kristal violet selama 5 menit. Kemudian dibilas dengan air mengalir dan dikeringkan di bawah lampu yang bersuhu antara 25 – 30 °C. Setelah kering diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000x menggunakan minyak emersi. Dihitung sedikitnya sebanyak 100 spermatozoa untuk mengetahui persentase spermatozoa bentuk normal (Sono, 1997).

Bentuk – bentuk morfologi abnormal adalah kepala makro, kepala mikro, kepala taper, kepala piri, kepala double, kepala amorf, kepala round, kepala pin, midpiece abnormal, sitoplasma droplet, ekor double, ekor koil, ekor bent.
Kriteria morfologi normal bila pada pemeriksaan didapatkan bentuk spermatozoa normal ≥ 30 % (WHO,1999). WHO 1999 yang direvisi > 14 % (kriteria ketat), dan terakhir morfologi normal WHO 2010 ≥ 4 %.
Bila tidak memenuhi kriteria persentase morfologi normal spermatozoa diatas maka kategori diagnostik laboratoris adalah Teratozoospermia.
Motilitas Spermatozoa
Satu tetes semen (10 µl) ke atas gelas objek dengan ukuran 25.4 mm x 76.2 mm lalu ditutup dengan cover gelas 22 mm x 22 mm. Dilakukan pengamatan sebanyak 100 spermatozoa pada pembesaran mikroskop 400x.
Motilitas spermatozoa normal bila : motilitas a > 25 % atau a+b ≥ 50 % (WHO, 1999).
Motilitas di revisi WHO tahun 2010 hanya mengenal PR, NP, IM. Motilitas spermatozoa normal bila PR ≥ 32 % atau PR+NP ≥ 40 % (WHO, 2010)
Bila menggunakan bantuan komputer (CASA) dapat ukur secara objektif kecepatan spermatozoa, atau bila menggunakan pemeriksaan manual dengan menggunakan makler counting chamber dapat memudahkan pengkategorian motilitas spermatozoa :
Bila Tidak memenuhi kriteria motilitas normal diatas maka kategori diagnostik laboratorisnya adalah Asthenozoospermia.
Konsentrasi Spermatozoa
Dilakukan terlebih dahulu perkiraan kepadatan per lapang pandang spermatozoa dengan penggunakan lapang pandang besar (pembesaran 400 kali). Perkiraan ini digunakan untuk menentukan pengenceran yang digunakan untuk menghitung konsentrasi spermatozoa menggunakan haemocytometer.
Dengan meneteskan satu tetes (10 µl) semen pada tiap kamar hitung haemocytometer, lalu dihitung jumlah spermatozoa yang ada.
• Jika sampel kurang dari 10 spermatozoa per lpb, maka menghitung seluruh kotak besar yang berjumlah 25.
• Jika 10 - 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup menghitung 10 kotak besar.
• Jika sampel > 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup menghitung 5 kotak besar.
Selanjutnya bila telah menghitung 25, 10 atau 5 kotak besar pada haemocytometer maka dibagi dalam faktor konversi sesuai kotak besar yang telah dihitung, yang hasilnya adalah konsentrasi spermatozoa dalam juta per milliliter.
Konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 20 juta/ml (WHO,1999).
WHO edisi 2010 konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 15 juta/ml.
Hubungan Konsentrasi dengan angka kehamilan dijelaskan dengan grafik dibawah ini :
Bila konsentrasi spermatozoa < 20 Juta/ml (WHO,1999) maka kategori diagnostik laboratoris disebut Oligozoospermia.
Khusus konsentrasi spermatozoa dibawah 5 juta/ml, di center Andrologi RSU Dr. Soetomo / Univ. Airlangga memberikan istilah khusus yaitu Extreme Oligozoospermia, atau diluar Indonesia di beberapa center memberikan istilah Severe Oligozoospermia.

