Tampilkan postingan dengan label Premature Ejaculation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Premature Ejaculation. Tampilkan semua postingan

Mekanisme Ejakulasi

Terapi Ejakulasi Dini (premature ejaculation)

Kebanyakan kasus ejakulasi dini sekarang diberikan terapi dengan obat-obatan. Dulu ejakulasi dini diterapi dengan metode squeeze yang dikembangkan oleh Masters dan Johnson beberapa dekade lalu, dan metode stop-start dari dr. Helen Kaplan. Kedua metode ini dapat mencapai keberhasilan. Sayangnya, keberhasilan tersebut tidak dapat bertahan dalam jangka panjang.
Terapi obat – obatan diketahui merupakan efek samping pengobatan anti depresi golongan SSRI. Selama dekade terakhir, pengalaman yang cukup telah diperoleh dalam menggunakan SSRI untuk mengobati ejakulasi dini. Namun, obat ini harus diminum setiap hari, dengan membutuhkan sekitar 2 minggu untuk dosis harian untuk menjadi efektif.
Sekarang tersedia obat yang dirancang khusus untuk mengobati ejakulasi dini. Kerjanya mirip dengan SSRI dalam mencegah pengangkutan, bukan reuptake serotonin. Kelebihan obat ini adalah dapat mencapai konsentrasi maksimum dalam tubuh dalam waktu sekitar satu jam dan akan dibersihkan dari tubuh dengan cepat. Jadi, tidak perlu diminum tiap hari, cukup diminum hanya pada waktu sebelum berhubungan intim (on demand). Efek samping yang ada juga minimal.



Prevalensi PE dan ED

Insiden disfungsi ereksi menurut penelitian The Massachusetts Male Ageing Study (MMAS) menunjukkan 52 % responden usia 40-70 tahun menderita disfungsi ereksi dengan berbagai tingkat. Diperkirakan di seluruh dunia lebih dari 152 juta pria mengalami disfungsi ereksi pada tahun 1995.
Diduga sekitar 10 – 15 persen pria Indonesia yang sudah menikah mengalami disfungsi ereksi, semakin bertambah umur insiden disfungsi ereksi semakin meningkat.


Mekanisme Kontrol Ejakulasi

Ejakulasi
Ejakulasi diinduksi oleh kontraksi ritmik ischiokavernosus dan terutama otot bulbocavernosus yang mengeluarkan semen melalui lumen urethra.

Fisiologi ejakulasi dijelaskan melalui neurofisiologi dan neurofarmakologi ejakulasi.
1. Neurofisiologi ejakulasi
Sistem saraf pusat dan perifer terlibat dalam proses ejakulasi.
a.Sistem saraf pusat.
Otak, batang otak dan lumbosakral cord mengandung beberapa area yang terlibat dalam ejakulasi.
b. Sistem saraf perifer
Sistem saraf otonom, termasuk sistem saraf simpatis memediasi terjadinya ejakulasi. Mekanisme ereksi dibagi 2 fase : emisi dan ekspulsi.
1). Emisi
Emisi dikontrol oleh eferen simpatetik yang berasal dari T9-L2 .
Selama emisi, semen (sperma dan plasma seminalis) disimpan ke dalam urethra posterior melalui konstraksi vasa diferentia, vesika seminalis dan prostat. Pada saat yang bersamaan, spincter internal kandung kemih tertutup.
2). Ekspulsi (atau ejakulasi sejati)
Emisi diikuti segera oleh ekspulsi. Selama ekspulsi, semen secara dikeluarkan dengan kekuatan penuh ke dalam urethra dan keluar penis oleh kontraksi klonik otot dasar panggul.


















2. Neurofarmakologi ejakulasi
Ejakulasi secara sentral dimediasi oleh serotonergik (5-hydroxytryptamine; 5-HT) dan sistem dopaminergik. Pada hewan percobaan secara jelas diterangkan bahwa aktivasi reseptor 5-HT1A menfasilitasi ejakulasi, pada penelitian lain terlibat reseptor 5-HT2C dan 5-HT1B.

Kuisioner Ejakulasi Dini