Oligozoospermia

Konsentrasi Spermatozoa
Dilakukan terlebih dahulu perkiraan kepadatan per lapang pandang spermatozoa dengan penggunakan lapang pandang besar (pembesaran 400 kali). Perkiraan ini digunakan untuk menentukan pengenceran yang digunakan untuk menghitung konsentrasi spermatozoa menggunakan haemocytometer.




















Dengan meneteskan satu tetes (10 µl) semen pada tiap kamar hitung haemocytometer, lalu dihitung jumlah spermatozoa yang ada.
• Jika sampel kurang dari 10 spermatozoa per lpb, maka menghitung seluruh kotak besar yang berjumlah 25.
• Jika 10 - 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup menghitung 10 kotak besar.
• Jika sampel > 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup menghitung 5 kotak besar.
Selanjutnya bila telah menghitung 25, 10 atau 5 kotak besar pada haemocytometer maka dibagi dalam faktor konversi sesuai kotak besar yang telah dihitung, yang hasilnya adalah konsentrasi spermatozoa dalam juta per milliliter.
Konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 20 juta/ml (WHO,1999).
WHO edisi 2010 konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 15 juta/ml.

Hubungan Konsentrasi dengan angka kehamilan dijelaskan dengan grafik dibawah ini :













Bila konsentrasi spermatozoa < 20 Juta/ml (WHO,1999) maka kategori diagnostik laboratoris disebut Oligozoospermia.
Khusus konsentrasi spermatozoa dibawah 5 juta/ml, di center Andrologi RSU Dr. Soetomo / Univ. Airlangga memberikan istilah khusus yaitu Extreme Oligozoospermia, atau diluar Indonesia di beberapa center memberikan istilah Severe Oligozoospermia.

Endokrin Reproduksi Pria







Copyright ©2010. Allrights reserved. http://www.trb-media.com
http://www.youtube.com/watch?v=yprZUf-tclc

Azoospermia

Dear bu Cinta,

Sperma dinyatakan kosong mengacu pada terminologi Azoospermia. Azoospermia adalah bila hasil pemeriksaan analisis semen tidak didapatkan adanya spermatozoa (konsentrasi = 0 spermatozoa) setelah dilakukan sentrifuge. Untuk "initial assesment" direkomendasikan untuk dilakukan analisis semen ulang dengan jarak 2-3 minggu dari pemeriksaan pertama.

Penyebabnya harus ditelusuri dari wawancara sistematis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lain (misalnya hormon reproduksi).
Pada prinsipnya infertilitas pria di kelompokkan menjadi 3 untuk memudahkan diagnosis dan penangganannya :
1. pre testiskular (sebelum testis misalnya ada masalah di otak)
2. testiskular (di testis yang merupakan lokasi produksi sperma)



3. pasca testiskular (produksi sperma ada, namun saluran keluarnya tersumbat/obstruksi baik disengaja (vasektomi) ataupun tidak seperti adanya infeksi saluran/kelenjar aksesori pria).

Azoospermia harus dibedakan antara obstruktif atau non obstruktif, sehingga kategori azoospermia dapat dibagi 2 :
- karena obstruksi (post testikular) dan
- NOA non obstruksi azoospermia (pretestiskular & testiskular).

Kembali ke pertanyaan bu cinta mengenai " apakah keadaan sperma kosong masih dapat disembuhkan ?", hal itu sangat bergantung kepada penyebab yg melatarbelakangi.
Karena biasanya pria yang mengalami azoospermia memeriksakan spermanya karena alasan pasangan tersebut ingin punya anak. Maka bila terjadi obstruksi, dilakukan "sperma retrieval", yang dilanjutkan dengan bayi tabung ICSI dengan outcome "pregnancy rate" yang cukup tinggi.
Bila non obstruksi maka akan dicari tahu apakah keadaan tersebut adalah "reversible/temporer" artinya bila diterapi masih dimungkinkan testis (pabrik sperma) masih dapat menghasilkan sperma atau "irreversible/ permanent" artinya walaupun diberikan terapi hasilnya akan tetap azoospermia.
Yang "reversible" masih dapat di tangani, sedangkan yang "irreversible" biasanya dokter akan menyarankan untuk "adopsi anak".

Berikut adalah algoritma mengenai azoospermia :














Sumber : Kafer, John dan French, Dan dalam buku "Male Infertility : Problems and Solutions". Humana Press. 2010. Hal. 26.

Dapat dilihat juga mengenai : Azoospermia + Infeksi yang ditulis tanggal 27 Februari 2009, dalam http://klinikandrologi.blogspot.com/search/label/Male%20Infertility

Demikianlah bu Cinta, bila ada pertanyaan, masukan atau saran-saran, jangan sungkan untuk berkorespodensi di email : anton.smc@gmail.com.


Salam,


Anton Darsono
-------------

Kuisioner Ejakulasi Dini

Perjalanan Spermatozoa



Copyright ©2010. Allrights reserved. http://www.trb-media.com
http://www.youtube.com/watch?v=UjgUrZ1ht_U

Pengaruh Rokok Terhadap Defisiensi Selenium

Merokok telah menjadi masalah kesehatan global yang serius. Asap rokok merupakan oksidan yang menyebabkan berbagai kelainan pada beberapa sistem tubuh (Zahraie, 2005). Kandungan asap rokok tembakau merupakan oksidan dan pro oksidan yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan radikal bebas dan meningkatkan stress oksidatif. Setiap hembusan / kepulan asap rokok tembakau mengandung 104 oksidan dalam fase tar dan 105 dalam fase gas. Asap rokok merupakan faktor resiko dalam meningkatkan peroksidasi lipid.

Selenium diperlukan sebagai komponen essensial enzim Glutathione Peroksidase, merokok dapat berpengaruh terhadap aktivitas enzim antioksidan, yang secara tidak langsung berakibat pada metabolisme Selenium (Zahraie et al, 2005).

Selenium (Se) merupakan trace element yang sangat unik, sebab merupakan komponen dari sebuah asam amino selenocystein. Selenoprotein terlibat dalam pengaturan biologikal yang spesifik. Enzim Gluthathione Peroxidase tergantung pada kinerja Selenium. Selenium berperan dalam pengaturan sel seperti melindungi kerusakan akibat oksidatif, melawan infeksi, dan modulasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan.
Pada penelitian beberapa hewan coba dilaporkan bahwa Selenium diperlukan untuk perkembangan testis dan spermatogenesis pada tikus (Behne et al, 1996 dalam Hawkes et al, 2001), mencit dan babi (Combs dan combs, 1986 dalam Hawkes et al, 2001). Serum Selenium dilaporkan lebih rendah pada pria dengan oligozoospermia dan azoospermia dibandingkan kontrol (Krsnjavi et al, 2001 dalam Hawkes et al, 2001). Penurunan fertilitas pada pria dijabarkan sebagai penurunan konsentrasi, penurunan motilitas dan makin banyaknya kerusakan spermatozoa.

Defisiensi Selenium pada spermatozoa menyebabkan distorsi pada arsitektur mid piece sebab Selenium merupakan trace element penyusun matriks keratin (kapsul) mitokondria. Peran Selenium terutama pada pembentukan selenoprotein P dan phospholipid hydroperoxidase gluthatione peroxidase (PHGSH-Px) dalam spermatogenesis. Selenoprotein P ditransformasi pada tingkat akhir spermatogenesis dari selenoperoxidase aktif ke dalam struktur protein yang akan menjadi bagian kapsul mitokondria spermatozoa. Transformasi ini berjalan seiring dengan hilangnya glutathione. Mekanismenya, proses ini menginaktivasi GSH-Px dari reaksi bentuk selenenik dengan thiol GSH-Px itu sendiri dan protein lain. Komponen terbanyak selenoprotein PHGSH-Px, PHGSH-Px disintesis di spermatid bulat dibawah kontrol tak langsung testosteron. Distorsi midpiece akan menyebabkan penurunan kualitas spermatozoa yang pada akhirnya dapat mengakibatkan infertilitas.

Selenoprotein juga berfungsi mengikat radikal bebas yang dihasilkan oleh proses fosforilasi oksidatif di mitokondria. Kecenderungan peningkatan jumlah perokok di Indonesia dapat meningkatkan angka kejadian infertilitas di Indonesia diperkirakan pada tahun – tahun mendatang.