Diabetes Mellitus

IDF Consensus Group (Berlin, 2005) memberikan pedoman untuk sindrom metabolik, yaitu :

Obesitas sentral : Lingkar pinggang > 90 cm.
Ditambah 2 dari :
- Peningkatan trigliserida : ≥ 1.7 mmol/L (≥ 150 mg/dl)
- Penurunan kolesterol HDL : < 1.03 mmol/L (< 40 mg/dl)
- Peningkatan tekanan darah : sistolik ≥ 130 mmHg, diastolik ≥ 85 mmHg
- Peningkatan glukosa darah puasa (FPG) : ≥ 5.6 mmol/L (≥ 100 mg/dl) atau type 2 diabetes




















FPG = Fasting Plasma Glucose
OGTT = Oral Glucose Tolerance Test

      Diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stres, depresi, dll adalah penyakit yang umumnya mempengaruhi aliran darah dan menyebabkan disfungsi ereksi (ED).
      Terjadinya diabetes ketika tubuh tidak secara  efektif mengontrol jumlah kandungan gula di dalam darah, sehingga konsentrasi gula  dalam darah meningkat.  Seiring dengan waktu, konsentrasi gula yang tinggi ini dapat merusak saraf dan pembuluh darah, termasuk pembuluh darah yang mengalirkan darah ke penis pada saat pria ereksi.
       Kasus disfungsi ereksi pada diabetes meningkat seiring umur tapi bisa juga meningkat karena alasan lain seperti durasi diabetes dan kontrol glikemik yang tidak baik. Pria yang menderita diabetes tiga kali lebih besar kemungkinan mengalami gangguan disfungsi ereksi dibandingkan yang tidak.
      Berat badan berlebih, kurang berolahraga, riwayat penyakit diabetes dalam keluarga perlu dilakukan deteksi dini sebelum kondisi itu terjadi.

Waspada Sindrom Andropause

TANGERANG, WARTA – Sabtu (29/10/2011), RS Awal Bros Tangerang menggelar seminar kesehatan gratis yang mengupas Andropause. Hadir sebagai pembicara yakni Dr Anton Darsono Wongso, SpAnd.





Diterangkan Dr Anton, andropause adalah sindrom pada laki-laki lanjut usia yang disebabkan menurunnya kadar testosterone. Kadar testosterone akan menurun secara perlahan dengan bertambahnya usia yang dimulai kira-kira pada usia 40 tahunan (proses aging) atau karena sebab-sebab lain.
Andropause ini bisa menurunkan gairah seksual (libido), menurunnya kekuatan dan masa otot, osteoporosis, konsentrasi dan daya ingat. Serta meningkatnya lemak tubuh di perut, perasaan kelelahan dan depresi.



Leukospermia

Leukospermia (= lekositospermia / lekospermia) bila lekosit > 1 juta /ml. Sebagian besar lekosit yang terdapat dalam semen (= ejakulat / air mani) manusia berupa netrofil.
Pemeriksaan dan perhitungan lekosit ini penting karena merupakan petanda adanya infeksi saluran reproduksi pria (MAGI = male accessories glands infection) yang memerlukan terapi.
Dalam kasus terjadinya leukospermia, dihubungkan dengan perubahan parameter semen yaitu berkurangnya volume, penurunan konsentrasi sperma, penurunan motilitas (gerak) sperma peningkatan abnormalitas morfologi (bentuk normal) sperma, sampai hilangnya fungsi sperma. Penurunan diatas disebabkan oleh ROS yang meningkat serta sekresi sitokin yang sitotoksik.
Pengaruh leukospermia dalam praktek sehari-hari adalah terjadinya infertilitas pria dan faktor penyebab pada gangguan ejakulasi yaitu terjadinya ejakulasi premature (dini).


Seminar Awam Andropause & Pencegahan Infertilitas

Rapid Sperm Staining





Kondom & Kehamilan

Kondom adalah salah satu kontrasepsi dapat terbuat dari karet (latex) atau non latex (dibuat dari bahan polyurethane, biasanya dipakai oleh pasangan yang allergi dengan bahan latex dan juga dibuat khusus untuk koleksi air mani bagi pria yang kesulitan dalam mengambil sampel air mani untuk analisis sperma / preparasi sperma dengan cara masturbasi). Kondom banyak tersedia untuk pria, tapi ada juga untuk wanita dengan tujuan utama berfungsi sebagai “barrier” agar tidak terjadi kehamilan.

Kondom untuk pria, berbentuk tabung yang tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tetutup rapat serta dilengkapi penampung air mani / semen. Bahan pembuat, ketebalan, dan rasa juga bervariasi, selain daripada itu perlu diketahui apakah ditambahkan spermatisid atau tidak. Penambahan spermatisid berfungsi untuk mematikan sperma bila terjadi kontak dengan bahan spermatisid yang ditambahkan di kondom. Bahan latex (karet) diketahui juga bersifat spermatoksik yaitu bersifat mematikan sperma.

Penggunaan kondom di Indonesia sebagai metode KB masih sangat rendah yaitu sekitar 0,7% dari peserta KB yang ada. Rendahnya kesadaran menggunakan kondom ini disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah citra negatif yang melekat pada kondom.

Tingkat keberhasilan kondom adalah 80 sampai 95 persen. Jadi, masih ada 5 - 20 persen pasangan dapat hamil dengan penggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, sebaiknya kondom harus disimpan dan dipasang dengan baik dan benar.