Selenium Sebagai Anti Oksidan

Penyebab yang mempunya efek merusak dari ROS dan produknya dalam sel adalah peroxidasi membran lipid, sebuah proses yang diinisiasi oleh abstraksi atom hidrogen dari grup methylene (-CH2-) Polyunsaturated fatty acids pada membran lipid oleh hydroxyl radical. Keadaan double bond pada fatty acid melemahkan ikatan CH pada atom karbon kemudian membuat abstraksi atom hidrogen lebih mudah, bertempat dibelakang sebuah radikal karbon terpusat (CH) yang dapat distabilkan oleh rearrangement melokuler ke bentuk conjugated dienes, yang selanjutnya akan bereaksi dengan molekul oksigen membentuk peroxy radical (LOO) dengan reaksi :
L + O2 --> LOO
Selanjutnya akan abstraksi dengan atom hidrogen lain dari molekul lipid, propaganda rantai reaksi berikutnya dan terakhir membentuk lipid hydroperoxydes (LOOH) dengan reaksi :
LOO + LH --> LOOH + L
Peroksidasi lipid juga dapat diinduksi secara enzimatis oleh phospholipases dan lipoxygenases (LOX), dibentuk oleh lipolysis releases unsaturated fatty acids, yang bertindak subsekuensi sebagai substrat untuk LOX.
Organisme aerobik diberikan kemampuan untuk membentuk senyawa antioksidan dalam meredam dampak buruk dari oksidan atau radikal bebas yang terjadi selama kehidupan. Senyawa anti oksidan adalah senyawa yang dapat memberikan elektron (electron donor). Semua senyawa yang dapat meredam oksidan termasuk enzim, protein pengikat logam disebut sebagai antioksidan. Senyawa antioksidan meredam oksidan melalui pencegahan terhimpunnya senyawa – senyawa oksidan berlebihan (preventive antioxidants), atau mencegah reaksi rantai yang berkelanjutan (chain - breaking antioxidants). Masuk dalam preventive antioxidants yaitu superoksida dismutase (SOD), katalase, peroksidase, transferin dan feritin, seruloplasmin dan albumin. Sedangkan yang masuk dalam chain-breaking antioksidants adalah vitamin E, beta karoten, glutation, sistein dan vitamin C (Soedjono, 2008).
Terdapat banyak sistem penangkal radikal intrinsik yang melibatkan reaksi enzimatik dan non enzimatik. Copper – zinc superoxide dismutase (Cu-Zn SOD), glutathione peroxidase (GSH-Px) dan catalase (CAT) adalah komponen penting sistem antioksidatif enzimatik. Cu-Zn SOD dismutasi katalisis superoxide anion (O2-) ke dalam hidrogen peroksida (H2O2) dengan reaksi sebagai berikut :
O2- + O2- + 2 H+ --> H2O2 + O2
yang kemudian deaktivasi ke H20 oleh katalase dan GSH-Px. GSH-Px juga mereduksi peroksida organik yang berhubungan dengan alkohol. Pada beberapa penelitian merokok tembakau dapat mengurangi trace elements. Trace elements diperlukan dalam jumlah kecil sebagai komponen essensial enzim antioksidan (sitoplasmik Cu-Zn SOD mengandung metal tembaga dan seng sebagai kofaktor, enzim GSH-Px mengandung selenium dan CAT mengandung besi), merokok tembakau dapat berpengaruh terhadap aktivitas enzim antioksidan, yang secara tidak langsung berakibat pada metabolisme trace elements. (Zahraie et al, 2005).
Cd dan Pb dapat mempengaruhi absopsi, retensi, distribusi, dan ketersediaan biologi Se, Zn, dan cooper (Cu) dalam tubuh, menghasilkan defisiensi relatif pada elemen - elemen essensial tersebut, yang diperlukan untuk aktivitas optimum dari enzim – enzim antioksidan penting, superoxide dismutase (Cu, Zn-SOD) dan glutathione peroxidase (Se-GPx), terlibat dalam proteksi sel-sel dan melawan kerusakan oksidatif (Jurasovic, 2004). Glutathione peroxidase menetralisir hidrogen peroksida dengan mengambil hidrogen dari dua molekul GSH (bentuk glutathione tereduksi) menghasilkan dua H2O dan satu GSSG. Enzim gluthahione reduktase kemudian meregenerasi GSH dari GSSG (bentuk glutathione teroksidasi) dengan NADPH sebagai sumber hidrogen. Reaksi eliminasi hidrogen peroksida oleh glutathione dapat ditulis sebagai berikut (Best, 2008) :
2 GSH + H2O2 --> GSSG + 2 H2O
Radikal bebas pada lipid menghasilkan peroksida (ikatan -O-O-) menghasilkan mutagenic epoxides dan tidak terlarut & tidak dapat dicerna seperti lipofuscin. Glutathione peroksidase / glutathione merusak fat peroksida dengan cara yang sama untuk menghilangkan hidrogen peroksida :
2 GSH + ROOH --> GSSG + ROH + H2O

Merokok Sebagai Faktor Resiko Terjadinya Disfungsi Ereksi dan Upaya Menghentikan Kecanduan Rokok

Merokok telah menjadi masalah kesehatan global, pada tahun 2002, World Health Organization (WHO) memprediksi 10 juta batang rokok terjual setiap menit di seluruh dunia. Menurut Synovate Indonesia yang merupakan sebuah organisasi research marketing, ketika merokok menurun di seluruh dunia, kecuali di Indonesia justru meningkat. Dari data WHO tahun 1986, pria dewasa Indonesia yang merokok 53 persen, Survey Synovate tahun 2003 diketahui 60 persen pria dewasa Indonesia merokok, menjadikan Indonesia sebagai salah satu populasi perokok terbesar di dunia. Tingginya perokok di Indonesia tidak terlepas dari persepsi yang salah akan rokok, dimana rokok di pandang sebagai aktivitas yang “Macho”, iklan rokok yang bertebaran baik itu media cetak, elektronik maupun melalui kegiatan kesenian dan olahraga.

Di dalam rokok terkandung ribuan zat kimia, yang terdiri dari golongan carbonyl (formaldehyde, acetaldehyde, acetone, acrolein, dll), phenolic, aromatic amine (o-toluidine, dll), hydrogen cyanide, volatile (benzene, butadiene, acrylonitrite, dll), nitrogen oksida, logam berat (nikel, cadmium, timah hitam, air raksa, arsenic, dll), Nitrosamine, polycyclic aromatic hydrocarbon, heterocyclic aromatic amine.

Gambar kandungan zat kimia dalam sebatang rokok yang sedang di hisap
Nikotin merupakan satu dari ribuan zat kimia yang terdapat dalam rokok adalah zat kimia yang mirip asetilkolin yang memang terdapat dalam tubuh yang hanya memerlukan 8 detik untuk mencapai otak yang selanjutnya otak akan mengeluarkan dopamin. Dopamin akan memberikan sensasi “kenikmatan” . Di dalam aliran darah sensasi “kenikmatan” dapat sampai 72 jam yang selanjutnya akan terjadi sindrom putus obat, sehingga akan terjadi kecanduan dan ketergantungan yang tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Usaha untuk berhenti merokok menjadi sulit bila kebiasaan merokok telah dimulai ketika pada usia muda.

Dari berbagai macam efek negatif rokok bagi kesehatan, nikotin dikenali berkontribusi terhadap kanker paru – paru, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, infertilitas pria dan juga terhadap terjadinya disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi yang disebabkan oleh rokok menurut penelitian Austoni et al pada tahun 2005 terhadap 16.724 subjek penelitian, yang didiagnosis menderita disfungsi ereksi 4.081 (24,4 %), menunjukkan odds ratio (OR) yang signifikan yaitu 1,4 antara perokok aktif 10 batang rokok per hari dengan mantan pecandu perokok.

Penelitian Universitas Tulane tahun 2007 dengan responden hampir 8000 orang yang berusia 35 sampai 37 tahun menunjukkan resiko pria yang merokok untuk kejadian disfungsi ereksi meningkat untuk setiap batang rokok yang dihisap. Perokok berat yang merokok lebih dari 20 batang per hari diketahui 60 persen beresiko menderita disfungsi ereksi lebih banyak daripada pria yang tidak merokok, dan hampir 23 persen kasus disfungsi ereksi pada pria Asia berasal dari kebiasaan merokok mereka.
Penis terdiri dari saraf, pembuluh darah, jaringan fibrous, dan tiga silinder yang parallel. Dua silinder besar yang disebut corpora kavernosa dan satu silider yang lebih kecil disebut korpus spongiosum.

Ereksi penis adalah peristiwa neurovaskuler yang dimodulasi oleh faktor psikologis dan status hormonal. Disfungsi ereksi didefinisikan sebagai ketidaksanggupan lelaki untuk mencapai ereksi penis sebagai bagian dari suatu proses multifaset yang menyeluruh dari fungsi seks lelaki. Disfungsi ereksi akan mempengaruhi kepercayaan diri penderita, kualitas hidup dan hubungan dengan pasangan hidup. Kontribusi penting penelitian Massachusetts Male Aging Study (MMAS) yang berbasis komunitas dengan survey multi disiplin mengenai kesehatan dan aging pada pria. Dari total 1290 pria yang diteliti dengan umur 40 – 70 tahun, menderita disfungsi ereksi dengan rata- rata probabilitas 52.0 dan simpangan baku 1,3 %.

Toksisitas spesifik terhadap vaskulatur arteri penis, saraf dan jaringan kavernosus. Efek vaskular terjadi vasokonstriksi kuat dan menginduksi terjadinya lesi artherosclerotik arteri pudenda interna dan arteri dorsalis penis. Aliran darah dari arteri pudenda interna akan berkurang ke penis dengan adanya efek vasokonstriksi, penurunan Nitric Oxide (NO) yang merupakan mediator relaksasi otot polos penis, juga sekaligus terjadinya peningkatan outflow vena penis karena veno – occlusive dysfunction. Efek pada susunan saraf pusat karena berupa peningkatan dopamin dan penurunan serotonin yang dikeluarkan oleh otak.

Penelitian Lue et al mengenai hemodinamik ereksi dan bentuk gelombang Doppler pada mamalia menggunakan kavernosa dan teknik stimulasi saraf pudenda. Pada penis yang flaccid, arteriole dan sinusoid otot polos berkonstraksi. Selama fase filling, penurunan resistensi vakuler penis, terjadi peningkatan aliran darah melalui arteri pudenda dan kavernosa. Selama fase filling, resistensi sinusoid dan arteri rendah, bentuk gelombang Doppler khas dengan aliran forward flows yang tinggi selama sistole dan diastole.

Nitric Oxide (NO) yang diproduksi oleh sel – sel endothelial adalah endogenous vasodilator poten yang telah diketahui. Bekerja melalui cyclic guanosine 3’,5’-monophosphate (cGMP) – mediated mechanism. Dengan berat molekul yang rendah, sifat molekul lipofilik tinggi, NO dapat secara cepat berdifusi ke dalam sel disebelahnya. NO juga merupakan sel signaling effector yang poten dan molekul vasodilator dalam sistem kardiovaskuler. NO berperan penting modulasi vaskuler dan saraf otonom, thrombogenesis, inflamasi, stress oksidatif dan metabolism di hati dan vaskulatur, dalamotot dan jaringan saraf, di ginjal dan banyak jaringan lain.

Upaya menghentikan kecanduan rokok yang telah ada dapat dikategorikan dalam dua kelompok besar. Pertama dengan preparat terapi sulih nikotin berupa pemberian nikotin dengan kadar yang lebih rendah berupa patches, inhaler, dan gums, dan kelompok kedua dengan mengkonsumsi obat yang dapat menghentikan otak untuk menghilangkan respon nikotin.

Terapi sulih nikotin berupa patches, inhaler dan gums dapat diperoleh secara mudah, di jual bebas, tanpa resep. Mengandung kadar nikotin yang lebih rendah, diberikan setiap hari dengan tujuan untuk mengalihkan keinginan pecandu untuk merokok tanpa terjadi sindrom ketergantungan putus obat berat. Kadar nikotin yang diberikan akan di titer secara perlahan yang terus berkurang dari waktu ke waktu, sehingga ketergantungan fisik dan mental akan berkurang secara perlahan yang pada suatu ketika diharapkan pecandu akan berhenti total. Terapi sulih nikotin memerlukan kepatuhan yang kuat dan memerlukan waktu yang sangat lama.

Produk lainnya, adalah pengobatan untuk menghentikan kecanduan rokok. Obat ini tidak tersedia over the counter (OTC), hanya dapat diperoleh melalui resep dokter. Varenicline tartrate ( Champix® ) dengan aktivitas dan selektivitas pada α4 β2 neuronal nicotinic acetylcholine receptors, yang bekerja secara parsial senyawa agonist– a pada kedua aktivitas agonist, dengan efikasi intrinsik yang lebih rendah daripada nikotin, dan aktivitas antagonist pada nikotin. Obat ini bekerja secara langsung di dalam otak untuk memblok reseptor nikotin yang menyebabkan seseorang menjadi kecanduan nikotin, sehingga otak tidak mempunyai lagi reaksi terhadap nikotin. Bila orang tersebut merokok lagi mereka tidak akan mendapat sensasi “kenikmatan” sebagaimana yang telah mereka peroleh sebelum menggunakan obat ini.

Penggunaan Varenicline cukup selama 12 minggu, dengan waktu yang relatif singkat dan biaya yang terencana bila telah berniat untuk berhenti dari kecanduan rokok. Terdiri dari starter pack yang diminum pada hari 1 - 3 dosis : 1 x 0,5 mg, hari 4 – 7 dosis : 2 x 0,5 mg, selanjutnya dosis 2 x 1 mg sampai akhir minggu ke 2, dan maintenance pack untuk minggu 3 – 12 yang diminum dengan dosis 2 x 1 mg. Dianjurkan untuk menjadwalkan tanggal berhenti merokok dan obat diminum 1-2 minggu sebelum tanggal berhenti merokok yang telah direncanakan.

Untuk berhenti merokok tidak ada kata ” terlambat”, Menurut American Cancer Society, sekitar setengah dari semua perokok yang tetap merokok akan meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan rokok. Usaha berhenti merokok “lebih cepat, lebih baik” . Respon fisik yang dapat diperoleh setelah berhenti merokok dari saat rokok terakhir adalah :
20 menit : Tekanan darah dan nadi kembali normal
8 jam : Kadar karbon monosida dan oksigen darah kembali normal
24 jam : Kemungkinan serangan jantung mulai menurun
48 jam : Ujung – ujung saraf mulai tumbuh, kemampuan pengecap dan penciuman meningkat
72 jam : Saluran bronchial relaksasi, paru – paru dapat terisi udara lebih banyak
2 minggu - 3 bulan : Sirkulasi meningkat, fungsi paru – paru meningkat sampai 30 persen
1 – 9 bulan : Penurunan untuk terjadinya batuk, sinusitis, kelelahan, silia saluran nafas tumbuh kembali, peningkatan kemampuan mucus dan kebersihan paru – paru, secara keseluruhan energy tubuh meningkat.
Jangka panjang : Setelah setahun, resiko kematian dari serangan jantung dan stroke menurun sampai 50 persen.

Dapatkah ukuran Penis diperbesar ?

(anton.smc@gmail.com)

Banyak pasien pria dewasa yang berkunjung ke dokter menanyakan “Apakah ukuran penis saya normal, dok ?”. Ukuran normal tidaknya mengacu pada referensi yaitu dikatakan mikropenis bila -2,5 SD untuk usia tanpa disertai kelainan struktur seperti hipospadia.
Tabel rerata ukuran panjang penis (cm) : (Lihat bagian "MIKROPENIS")













Pada usia dewasa setelah melewati akhir masa puber, ukuran penis seorang pria TIDAK DAPAT dibesarkan lagi. Yang dapat dilakukan hanya secara KOSMETIK / AESTETIK saja. Misalnya dilakukan operasi untuk menurunkan ligamen yang menggantung penis, sehingga penis letaknya lebih bawah maka akan TAMPAK ukuran penis lebih panjang (tanpa penambahan ukuran).

Cara lainnya yang ditempuh misalnya suntik silikon cair, suntik kolagen. Cara ini dalam jangka pendek secara kosmetik akan tampak hasil yang memuaskan namun jangka panjang justru sangat merugikan. Hal ini terkait zat / bahan tersebut akan menetap di tubuh (permanen), tidak dapat diserap kembali, dan akan mengikuti gaya gravitasi. Sebagaimana diketahui penis seorang pria tentu mengalami ereksi sehingga penis menjadi tegak, panjang dan keras, maupun keadaan flaccid yang berupa penis lemas, mengkerut dan kecil, selain itu juga dipergunakan untuk hubungan suami istri yang akan memberikan stressing bagi anatomi penis tersebut. Dalam jangka panjang akan memberikan masalah yang jauh lebih besar seperti perubahan tampilan penis yang buruk, bahkan penis tersebut tidak dapat dipergunakan lagi untuk koitus.

Cara lain yang ditempuh adalah dengan menyuntikkan zat / bahan yang akan dapat diserap kembali oleh tubuh (temporer) dalam jangka waktu tertentu (sekitar 1,5 sampai 2 tahun), bersifat hipo alergi yang akan mengurangi efek yang merugikan seperti penyuntikan silikon ataupun kolagen. Penyuntikan tersebut terbaik pada glans penis (bagian ujung penis) hal ini akan memberikan efek kosmetik yang baik bagi pasien.



Ukuran penis seorang laki-laki dapat diperbesar bila dilakukan diterapi yang tepat pada usia anak-anak, PENAMBAHAN UKURAN PENIS DAPAT MAKSIMAL BILA DITERAPI PADA USIA SEBELUM PUBER. Hal yang perlu diperhatikan adalah deteksi dini dengan mengukur penis pada usia anak – anak.

Standar pengukuran penis adalah Strecthed Penile Length (SPL). Panjang penis diukur dari basis penis sampai ujung glans, tanpa mengukur preputium. Basis penis didapatkan dengan menekan lemak suprapubik dengan menyandarkan penis pada sebuah penggaris yang kaku atau spatula kayu. Penggaris atau spatula kayu yang diletakkan pada bagian ventral penis secara vertikal, ditekan sampai teraba simpfisis pubis. Penis kemudian ditarik sejauh mungkin (stretched) secara vertikal. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali dan reratanya digunakan sebagai hasil pengukuran panjang penis.
Bila ukuran penis dibawah rata-rata tapi ukuran penis belum -2,5 SD maka disebut PENIS KECIL, bila kurang dari -2,5 SD baru disebut "MIKROPENIS".












Jadi, penambahan ukuran penis pada usia sebelum pubertas akan memberikan hasil yang memuaskan. Namun bila telah melewati masa akhir puber maka penambahan ukuran tidak dapat signifikan lagi, yang dapat dilakukan hanya secara kosmetik saja.




Sindrom Defisiensi Testosteron Pada Pria Usia Lanjut (Andropause)

Kasus :
Seorang laki-laki berumur 55 tahun datang pada tanggal 13 Mei 2008 dengan keluhan ereksi tidak maksimal sejak 1 tahun yang lalu. Libido biasa, frekuensi koitus 1 kali seminggu. Riwayat penyakit hepatitis A, dislipidemia, dan sindrom dispepsia. Obat yang diminum dalam 3 bulan terakhir mylanta, lipitor, viagra, cialis dan emperor kapsul. Penggunaan “obat kuat” tidak menolong mengatasi keluhan fungsi ereksi. Ejakulasi sedang. Morning erection masih ada setiap pagi. Skor IIEF5 = 5,5,5,3,2. Riwayat psikologis : tidak ada masalah hubungan psikologis dengan istri, tidak sering beda pendapat dengan istri, masih tertarik secara seksual dengan istri, tidak mempunyai pasangan lain, istri kooperatif dengan terapi DE, menurut pasien penyebab DE adalah banyak urusan bisnis dan ada kasus hukum.
Pemeriksaan fisik : keadaan umum baik, TB 170.5 cm, BB 77.5 kg, lingkar perut 94 cm, panjang penis 9 cm, lingkar penis 8,5 cm. Tensi 120/80 mmHg, torak : Cor / Pulmo dbn, tidak ada ginekomastia, abdomen dbn.
Status Andrologis : Volume testis 12/10, konsistensi : kenyal / kenyal, epididymis dbn, tidak ada varikokel, tidak ada pyronie, reflek bulbo positif, tidak ada BPH.
Hasil laboratorium : GDP 108 mg/dl , kolesterol total 130 mg/dl, LDL 164 mg/dl, HDL 32 mg/dl, TG 219 mg/dl , UA 6.1 mg/dl, testosteron 315.3 ng/dl , PSA 0.46 ng/dl .
Diagnosis Kerja : Disfungsi ereksi campuran organik ringan-psikogenik, SDT, metabolik sindrom. Terapi : Modifikasi life style, olahraga, sildenafil sitrat (Viagra) 1x25 mg setiap hari, injeksi TU (nebido) 1000 mg (im). Saran kontrol lagi 6 minggu, cek lab lengkap.

Follow Up :
Tanggal 10 Juli 2008 : Datang untuk kontrol, ereksi sudah baik, bila menggunakan Viagra 25 mg koitus dapat selesai sekitar 5 menit, merasakan penis bertambah panjang, PF : TD : 120/80 mmHg. Diagnosis kerja : Disfungsi ereksi campuran organik ringan - psikogenik (perbaikan), SDT, metabolik sindrom. Terapi : Modifikasi life style, olah raga, sildenafil 1x25 mg setiap hari, injeksi TU 1000 mg (im). Saran kontrol lagi 3 bulan, cek lab lengkap.
Tanggal 14, 15 Oktober 2008 : Datang kontrol, ereksi sudah baik, bila menggunakan Viagra 25 mg koitus dapat selesai sekitar 5 menit, merasakan penis bertambah panjang, Hasil Pemeriksaan lab : Hb 16.9 mg/dl, Ht 49 %, GDP 102 mg/dl, SGOT 25/ PT 34 mg/dl, Cr 1.1 mg/dl, kolesterol total 152 mg/dl, LDL 88.7 mg/dl, HDL 32.9 mg/dl, TG 152 mg/dl, Testosteron 523.7 ng/dl. Diagnosis kerja : Disfungsi ereksi campuran organik ringan - psikogenik (perbaikan), SDT, metabolik sindrom. Terapi : Modifikasi life style, olah raga, sildenafil 1x25 mg setiap hari, injeksi TU 1000 mg (im). Saran kontrol lagi 3 bulan, cek lab lengkap.
Tanggal 20 Januari 2009 : Datang untuk kontrol, IIEF 5 = 5,4,5,5,5. EHS = 3. Lab : GDP 107 mg/dl, SGOT 27/PT 36 mg/dl, kolesterol total 175 mg/dl, LDL 164 mg/dl, HDL 38 mg/dl, TG 224 mg/dl, testosteron 508 ng/dl, PSA 0.61 ng/dl. Diagnosis kerja : Disfungsi ereksi campuran organik ringan - psikogenik (perbaikan), SDT, metabolik sindrom. Therapy : Modifikasi life style, olah raga, licotens 1x1, sildenafil 1x25 mg setiap hari, injeksi TU 1000 mg (im). Saran kontrol lagi 3 bulan, cek lab lengkap.
Tanggal 28 Mei 2009 : Datang untuk kontrol, migrain kambuh, ereksi menurun. Lab : GDP 104 mg/dl, LDL 103 mg/dl, HDL 31 mg/dl, TG 130 mg/dl, testosteron 397 mg/dl. Diagnosis kerja : Disfungsi ereksi campuran organik ringan - psikogenik (perbaikan), SDT, metabolik sindrom. Terapi : Modifikasi life style, olah raga, licotens 1x1, levitra 1x10 mg (p.r.n), injeksi TU 1000 mg (im). Saran kontrol lagi 3 bulan, cek lab lengkap.

Tinjauan Pustaka :
Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan yang menetap atau berulang untuk mendapatkan dan mempertahankan ereksi untuk melakukan aktivitas seksual yg memuaskan.
Kadar testosteron yang rendah dihubungkan dengan sentral obesitas, metabolik sindrom, diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular, dan disfungsi ereksi. Respon ereksi pada manusia secara sentral dan perifer diregulasi oleh androgen.
Pertumbuhan phallus pada masa fetus dan selanjutnya tergantung pada konsentrasi testosteron dan DHT di jaringan dan densitas reseptor androgen. Pada tingkat cerebral, testosteron menstimulasi sintesis, penyimpanan dan pengeluaran neurotransmitter pro ereksi seperti dopamin, NO dan oksitosin. Pada tingkat spinal motoneuron somatis di otot bulbocavernosa dan ischiokavernosa adalah tergantung testosteron.















Pada korpus kavernosum, testosteron mempengararuhi ekspresi eNOS pada endotel dan smooth muscle pada korpus kavernosus. Pada penelitian hewan coba menunjukkan bahwa testosteron memiliki efek relaksasi pada otot polos kavernosa dengan menurunnya testosteron akan meningkatkan apoptosis otot polos (Porst, Hurtmut et al : 2006, hal. 39)











Pada male aging testosteron tidak hanya penting untuk karakteristik seks sekunder, libido dan potensi, tetapi juga menyebabkan perubahan mood dan fungsi kognitif. Testosteron pada male aging penting untuk kehidupan seksual sebagaimana untuk beberapa fungsi vital. (Nieschlag, et al : 2000, hal.428). Pada pasien diabetes glycated haemoglobin (HbA1c) berkurang sebagai konsekuensi peningkatan sensitivitas reseptor insulin.




















Sentral obesitas terdiri dari adipose tissue yang banyak mengandung estradiol yang mengakibatkan feedback mechanism (-) ke hipofise (LH) yang selanjutnya produksi testosteron oleh sel leydig akan menurun. Fungsi adipocyte sebagai sel endokrin yang memproduksi dan mensekresi adipocytokines/adipokines yang didominasi leptin, dimana reseptor leptin ada di sel leydig dan menginhibisi hipofise (LH) yang selanjutnya kadar testosteron akan menurun.

















IDF Consensus Group di Berlin pada tahun 2005 memberikan pedoman untuk sindrom metabolik, yaitu : Obesitas sentral : Lingkar pinggang orang Eropa ≥ 94 cm, orang Asia > 90 cm. Ditambah 2 dari :
- Peningkatan trigliserida : ≥ 1.7 mmol/L (≥ 150 mg/dl)
- Penurunan kolesterol HDL : < 1.03 mmol/L (< 40 mg/dl)
- Peningkatan tekanan darah : sistolik ≥ 130 mmHg, diastolik ≥ 85 mmHg
- Peningkatan glukosa darah puasa : ≥ 5.6 mmol/L (≥ 100 mg/dl),(atau type 2 diabetes)
Pada beberapa penelitian, pemberian PDE 5 inhibitor tidak selalu memperbaiki fungsi ereksi, dan pemberian testosteron dapat meningkatkan respon terapeutik PDE 5 inhibitor.
Pemberian testosteron juga dapat memperbaiki venous leakage pada korpus kavernosum sebagai faktor penyebab yang sering terjadi pada pria usia lanjut.

Daftar Pustaka :

Balon R, Segraves RT. 2005. Handbook of Sexual Dysfunction. Taylor and Francis. Florida.

Kapoor D, Goodwin E, Channer KS, dan Jones TH. 2006. Testosterone replacement therapy improves insulin resistance, glycaemic control, visceral adiposity, and hypercholesterolemia in hypogonadal men with type 2 diabetes.
Levine TB, Levine AB. 2006. Metabolic Syndrome and Cardiovascular Disease. Saunders Elsevier. Philadelphia.
Lue T. 2004. Clinical Manual of Sexual Medicine - Sexual Dysfunctions in Men. Health Publications Ltd. USA.
Nieschlag E, Behre HM. 2004. Andrology : Male Reproductive Health and Dysfunction. Second Edition. Springer. Berlin.
Porst H, Buvat J, penyunting. Standard Practice in Sexual Medicine. Massachusetts: Blackwell publishing; 2006.
Shabsigh R, Arver S, Channer KS, Earley I, Fabbri A et al. 2008. The triad of erectile dysfunction, hypogonadism and the metabolic syndrome.


Haemospermia (darah dalam semen)

HAEMOSPERMIA atau haematospermia adalah kondisi adanya darah di dalam ejakulat semen (Basu, 2005, Warna coklat kemerahan mengindikasikan adanya sel darah merah (eckardstein et al, 2000. Haematospermia adalah kondisi yang tidak umum, tetapi jarang berupa kondisi serius. Di banyak kasus, penyebab tidak diketahui dan dapat sembuh tanpa diobati.

Penyebab yang diketahui adalah peradangan, infeksi, sumbatan, cedera pada kelenjar prostat atau vesika seminalis, koitus setelah abstinentia lama.

Gejala : Sakit pada saat BAK, Sakit pada saat ejakulasi, Darah dalam urine, Lower back pain (LBP), Demam, Radang di testis / scrotum.

Pemeriksaan Penunjang :

  • UL dan kultur urine, positif kultur 6-29 %, TB 13 %
  • Usia muda : uretritis ( dgn uretral swab)
  • Analisa sperma dan kultur semen
  • PSA
  • Imaging : TRUST, MRI, CT Scan (terbaik u/ Vesika seminalis), Cystourethroscopy (u/ lesi urethra; prostat)

Diagnosis banding :

  • Prostat needle biopsy
  • Inflamasi prostat
  • Hipertensi
  • TB prostat, Vesika seminalis, Vas deferens
  • Calculi prostat dan Vesika seminalis
  • Bleeding disorder
  • Ca Prostat
  • Malignancy Vesika seminalis
  • Varises prostat

Terapi :

  • Diarahkan untuk penyebab yang telah ditemukan
  • Antibiotik bila diperkirakan prostatitis atau inflamasi kelenjar prostat (25 % penelitian menunjukkan haematospermia : prostatitis).

Prognosis :

  • Self limited
  • Kegagalan identifikasi keganasan; manifestasi sistemik haematospermia; konsekuensi legal

Kepustakaan :

  • Basu, SC., 2005. Male Reproductive Dysfunction. Jaypee. New Delhi.
  • Nieschlag, E dan Behre, HM., 2000. Andrologi : Male Reproductive Health and Dysfunction. Second Ed. Springer. Berlin.
  • Papp, GK et al., Aetiology of Haematospermia dalam Andrologia. Vol 35 Issues 5.h. 317-320
  • Schill, WB et al., 2006. Andrologi for the Clinician. Springer. Berlin.Sonnex, Christ., 2007. Sexual Health and Genital Medicine in Clinical Practice. Springer. Berlin.


OligoAsthenozoospermia

Bu Fanya Yth,

OligoAsthenozoospermia mengacu pada konsentrasi sperma < 20 jt/ml dan motilitas sperma grade a < 25 % atau a+b < 50 %.
Paradigma yang baru : analisa sperma tidak dipakai sebagai referensi untuk menentukan dapat punya anak atau tidak, tetapi sperma analisa yang jelek menurunkan peluang untuk memiliki anak. Semakin jelek hasilnya maka peluang juga akan semakin kecil memiliki anak dengan pembuahan alami. Hal ini karena untuk memiliki anak terlibat proses yang sangat komplek baik dari suami, istri dan keduanya.
Analisa sperma adalah "tool" untuk mengevaluasi dan memonitor pengobatan yang diberikan serta menentukan treatment optional apa yang cocok bagi mengatasi masalah infertilitas (misalnya dengan terapi kausal, terapi empirik, perlu pembedahan, atau dengan reproduksi berbantu (Insem, ivf atau ICSI)).
Eksplorasi riwayat infertilitas, pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan andrologi: mutlak diperlukan agar didapatkan hasil treatment yang optimal.
Demikianlah, Terima kasih.



Salam,



Anton Darsono
-------------