Anatomi Reproduksi Pria

Teratozoospermia

Bentuk Spermatozoa
Dilakukan pengecatan dengan membuat hapusan satu tetes semen diatas gelas objek, lalu di tunggu sampai kering. Selanjutnya dilakukan fiksasi dengan menggunakan methanol selama 5 menit. Setelah kering objek gelas dicelupkan ke dalam larutan safranin selama 5 menit. Kemudian dibilas dengan cara rendam - celup ke dalam larutan buffer fosfat dengan pH 6,8 sebanyak dua kali berturut – turut. Selanjutnya dicelupkan ke dalam larutan kristal violet selama 5 menit. Kemudian dibilas dengan air mengalir dan dikeringkan di bawah lampu yang bersuhu antara 25 – 30 °C. Setelah kering diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000x menggunakan minyak emersi. Dihitung sedikitnya sebanyak 100 spermatozoa untuk mengetahui persentase spermatozoa bentuk normal (Sono, 1997).




















Bentuk – bentuk morfologi abnormal adalah kepala makro, kepala mikro, kepala taper, kepala piri, kepala double, kepala amorf, kepala round, kepala pin, midpiece abnormal, sitoplasma droplet, ekor double, ekor koil, ekor bent.

















Kriteria morfologi normal bila pada pemeriksaan didapatkan bentuk spermatozoa normal ≥ 30 % (WHO,1999). WHO 1999 yang direvisi > 14 % (kriteria ketat), dan terakhir morfologi normal WHO 2010 ≥ 4 %.
Bila tidak memenuhi kriteria persentase morfologi normal spermatozoa diatas maka kategori diagnostik laboratoris adalah Teratozoospermia.

Motilitas Spermatozoa

Motilitas Spermatozoa
Satu tetes semen (10 µl) ke atas gelas objek dengan ukuran 25.4 mm x 76.2 mm lalu ditutup dengan cover gelas 22 mm x 22 mm. Dilakukan pengamatan sebanyak 100 spermatozoa pada pembesaran mikroskop 400x.
Motilitas spermatozoa normal bila : motilitas a > 25 % atau a+b ≥ 50 % (WHO, 1999).
Motilitas di revisi WHO tahun 2010 hanya mengenal PR, NP, IM. Motilitas spermatozoa normal bila PR ≥ 32 % atau PR+NP ≥ 40 % (WHO, 2010)

Bila menggunakan bantuan komputer (CASA) dapat ukur secara objektif kecepatan spermatozoa, atau bila menggunakan pemeriksaan manual dengan menggunakan makler counting chamber dapat memudahkan pengkategorian motilitas spermatozoa :





















Bila Tidak memenuhi kriteria motilitas normal diatas maka kategori diagnostik laboratorisnya adalah Asthenozoospermia.

Oligozoospermia

Konsentrasi Spermatozoa
Dilakukan terlebih dahulu perkiraan kepadatan per lapang pandang spermatozoa dengan penggunakan lapang pandang besar (pembesaran 400 kali). Perkiraan ini digunakan untuk menentukan pengenceran yang digunakan untuk menghitung konsentrasi spermatozoa menggunakan haemocytometer.




















Dengan meneteskan satu tetes (10 µl) semen pada tiap kamar hitung haemocytometer, lalu dihitung jumlah spermatozoa yang ada.
• Jika sampel kurang dari 10 spermatozoa per lpb, maka menghitung seluruh kotak besar yang berjumlah 25.
• Jika 10 - 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup menghitung 10 kotak besar.
• Jika sampel > 40 spermatozoa terlihat per lpb, maka cukup menghitung 5 kotak besar.
Selanjutnya bila telah menghitung 25, 10 atau 5 kotak besar pada haemocytometer maka dibagi dalam faktor konversi sesuai kotak besar yang telah dihitung, yang hasilnya adalah konsentrasi spermatozoa dalam juta per milliliter.
Konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 20 juta/ml (WHO,1999).
WHO edisi 2010 konsentrasi spermatozoa normal bila ≥ 15 juta/ml.

Hubungan Konsentrasi dengan angka kehamilan dijelaskan dengan grafik dibawah ini :













Bila konsentrasi spermatozoa < 20 Juta/ml (WHO,1999) maka kategori diagnostik laboratoris disebut Oligozoospermia.
Khusus konsentrasi spermatozoa dibawah 5 juta/ml, di center Andrologi RSU Dr. Soetomo / Univ. Airlangga memberikan istilah khusus yaitu Extreme Oligozoospermia, atau diluar Indonesia di beberapa center memberikan istilah Severe Oligozoospermia.

Endokrin Reproduksi Pria







Copyright ©2010. Allrights reserved. http://www.trb-media.com
http://www.youtube.com/watch?v=yprZUf-tclc

Azoospermia

Dear bu Cinta,

Sperma dinyatakan kosong mengacu pada terminologi Azoospermia. Azoospermia adalah bila hasil pemeriksaan analisis semen tidak didapatkan adanya spermatozoa (konsentrasi = 0 spermatozoa) setelah dilakukan sentrifuge. Untuk "initial assesment" direkomendasikan untuk dilakukan analisis semen ulang dengan jarak 2-3 minggu dari pemeriksaan pertama.

Penyebabnya harus ditelusuri dari wawancara sistematis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lain (misalnya hormon reproduksi).
Pada prinsipnya infertilitas pria di kelompokkan menjadi 3 untuk memudahkan diagnosis dan penangganannya :
1. pre testiskular (sebelum testis misalnya ada masalah di otak)
2. testiskular (di testis yang merupakan lokasi produksi sperma)



3. pasca testiskular (produksi sperma ada, namun saluran keluarnya tersumbat/obstruksi baik disengaja (vasektomi) ataupun tidak seperti adanya infeksi saluran/kelenjar aksesori pria).

Azoospermia harus dibedakan antara obstruktif atau non obstruktif, sehingga kategori azoospermia dapat dibagi 2 :
- karena obstruksi (post testikular) dan
- NOA non obstruksi azoospermia (pretestiskular & testiskular).

Kembali ke pertanyaan bu cinta mengenai " apakah keadaan sperma kosong masih dapat disembuhkan ?", hal itu sangat bergantung kepada penyebab yg melatarbelakangi.
Karena biasanya pria yang mengalami azoospermia memeriksakan spermanya karena alasan pasangan tersebut ingin punya anak. Maka bila terjadi obstruksi, dilakukan "sperma retrieval", yang dilanjutkan dengan bayi tabung ICSI dengan outcome "pregnancy rate" yang cukup tinggi.
Bila non obstruksi maka akan dicari tahu apakah keadaan tersebut adalah "reversible/temporer" artinya bila diterapi masih dimungkinkan testis (pabrik sperma) masih dapat menghasilkan sperma atau "irreversible/ permanent" artinya walaupun diberikan terapi hasilnya akan tetap azoospermia.
Yang "reversible" masih dapat di tangani, sedangkan yang "irreversible" biasanya dokter akan menyarankan untuk "adopsi anak".

Berikut adalah algoritma mengenai azoospermia :














Sumber : Kafer, John dan French, Dan dalam buku "Male Infertility : Problems and Solutions". Humana Press. 2010. Hal. 26.

Dapat dilihat juga mengenai : Azoospermia + Infeksi yang ditulis tanggal 27 Februari 2009, dalam http://klinikandrologi.blogspot.com/search/label/Male%20Infertility

Demikianlah bu Cinta, bila ada pertanyaan, masukan atau saran-saran, jangan sungkan untuk berkorespodensi di email : anton.smc@gmail.com.


Salam,


Anton Darsono
-------------